
Tertarik saat membaca sebuah blog fotografi soal tripod, saya ingin mencoba menuliskan kembali artikel tersebut disini dan semoga saya tidak dianggap menjiplak tulisan orang lain
Seringkali pemakaian tripod dalam fotografi dianggap ribet dan cenderung diremehkan. Fungsi tripod sebagai ‘kaki’ kamera juga dianggap kurang perlu terutama di era fotografi digital sekarang ini yang telah memberi kebebasan untuk memakai ISO tinggi (sehingga bisa didapat kecepatan shutter yang cepat). Belum lagi fotografer jaman sekarang sudah dimanjakan oleh adanya fitur stabilizer yang mampu meredam getaran tangan hingga beberapa stop lebih rendah dibanding tanpa stabilizer.
Namun fungsi tripod ini tetap saja diperlukan dalam fotografi, setidaknya dalam kondisi pemotretan seperti berikut ini :
Mengutip dari blog diatas – a tripod is what is needed to allow you to slow down your shutter speed, keep your aperture small enough to get good depth of field and not have to boost your ISO into noisy levels.
Sumber : http://gaptek28.wordpress.com
by Mas Gaptek
Ingin lihat seperti apa foto yang bagus itu? Lihatlah screenshot berikut ini, yang saya ambil dari sebuah web photo-sharing baru bernama Photo Blogku. Meski dalam ukuran thumbnail yang kecil-kecil, apakah anda setuju kalau foto-foto dibawah ini tampak bagus?
Bukan, foto diatas itu bukan saya yang motret. Untuk mengetahui siapa fotografernya, masuk saja ke web itu dan klik fotonya, nanti akan muncul nama juru fotonya. Saya pribadi melihat foto-foto diatas merasa kagum akan kehebatan para juru foto yang berhasil mendapat gambar-gambar indah seperti itu. Bayangkan, tanpa harus melihat foto diatas dalam ukuran aslinya, saya sudah dapat menikmati indahnya suasana alam yang dihadirkan dalam foto diatas. Pemilihan objek yang indah, komposisi yang tepat, warna yang berkesan dan teknik yang tinggi telah bersinergi membuat suatu foto (atau karya seni) yang amat baik meski hanya disajikan dalam ukuran kecil. Kita tidak sedang berbicara soal megapiksel disini, tidak juga soal ketajaman lensa ataupun kamera-kamera mahal yang menjadi obsesi sebagian dari kita. Saya sedang mengintrospeksi diri : mengapa membuat foto yang baik itu (ternyata) tidak mudah.
Beberapa pembaca blog saya bertanya, mana galeri foto milik saya pribadi? Mana sih karya foto dari mas gaptek yang (katanya) mengaku menyukai hobi fotografi itu? Dengan apa adanya saya selalu katakan kalau saya memang belum punya karya foto yang pantas untuk disajikan kepada publik. Bila saya menulis soal kamera dan fotografi disini, itu hanya sekedar berbagi / sharing pengetahuan dan bukan berarti saya adalah fotografer yang punya karya-karya indah. Sementara banyak fotografer di luar sana yang menampilkan karya indahnya melalui website, cukuplah saya sekedar menulis seputar kamera dan fotografi sehingga diharapkan banyak muncul fotografer baru yang bermula dari membaca blog saya.
Membeli kamera (digital), mungkin menjadi harapan banyak orang saat ini. Banyak dari kita yang kebingungan saat hendak memilih kamera. Umumnya kita malah mengharapkan keajaiban, bahwa kamera yang dibelinya nanti dapat memberi hasil foto yang sempurna, bersih dari noise, dapat diandalkan di tempat gelap dan sebagainya. Atau simaklah betapa masih saja ada yang terjebak akan issue soal resolusi dan megapiksel, sehingga dirinya menjadi ragu saat dia ditawari kamera saku resolusi kecil atau kamera DSLR termurah seperti D40 yang ‘cuma’ 6 MP. Menurut saya sih resolusi kamera digital tidak ada kaitannya dengan kualitas foto. Tidak percaya? Lihat saja foto-foto ini sebagai buktinya.
Saya tanya satu hal, untuk apa kita membeli kamera? Mungkin saja tidak banyak yang menjawab bahwa tujuan utama sesorang membeli sebuah kamera adalah untuk mendukung hobi fotografinya. Bisa jadi kita hanya perlu sekedar untuk jepret-jepret seadanya, untuk dokumentasi keluarga, untuk mendukung kerja (surveyor dsb), untuk mengikuti tren gadget anyar (demi gengsi), atau untuk tujuan lainnya. Ingatlah, bila membeli kamera bukan untuk mendalami fotografi, kita tidak akan berupaya untuk mendapatkan foto yang baik secara teknis dan secara seni.
Saya punya 1001 alasan untuk berkelit bila ada yang bertanya mengapa saya tidak punya foto yang bagus (secara teknis dan secara seni). Bisa jadi alasan ini sama dengan anda, dan bolehlah ini jadi bahan instrospeksi betapa banyaknya alasan yang ternyata sering kita lontarkan, sementara di lain pihak para fotografer profesional juga punya 1001 alasan mengapa karya foto mereka begitu bagus.
Inilah alasan-alasan yang biasa kita kemukakan (termasuk oleh saya) :
Bila disederhanakan, umumnya alasan terbagi tiga hal, yaitu kepada kamera (alat), keterbatasan teknis kita (fotografer) dan tempat (momen). Padahal bisakah kita menjamin, bila alasan-alasan diatas ditiadakan, bisakah kita mendapat foto yang baik? Bila anda sudah dibekali kamera DSLR full frame, lensa mahal bukaan konstan, ditempatkan di tempat yang tepat dan waktu yang tepat, bisakah kita menjamin kita pasti bisa dapat foto yang baik? Belum tentu. Betul bahwa kamera mahal nan lengkap bisa memberi kita kecepatan lebih, keleluasaan setting, kecil kemungkinan salah mengukur eksposure, dan jarang gagal dalam mencari fokus. Betul kalau lensa mahal mampu memberi ketajaman tinggi, warna dan kontras lebih baik, bukaan besar dan konstan, bebas distorsi, fall-off, vignetting, dan bisa memberi bokeh yang baik. Tapi mengapa mereka yang dengan berbekal peralatan seadanya, tanpa banyak memberi alasan, mampu menyuguhkan foto yang baik yang membuat kita menjadi speechless?
Fotografi adalah hobi, fotografi adalah seni. Kamera hanya alat, dia bisa menjadi sarana dokumentasi, sarana fotografi, atau sarana pamer gengsi. Bila kamera akan dijadikan alat fotografi, tinggalkanlah alasan-alasan yang menghambat kita untuk menghasilkan foto yang baik. Banyak di luar sana orang-orang hebat yang ingin menyalurkan hobi fotografinya namun tidak memiliki alat apapun, mengapa kita yang dikaruniai kelebihan dengan mampu memiliki kamera digital justru tidak mencoba mengoptimalkan kamera kita?
Sekedar tips untuk saya pribadi, dan mungkin juga berguna buat anda pembaca, kiat-kiat menghasilkan foto yang baik, apapun kameranya :
Sebagai bahan perenungan, bila anda sedang berencana membeli kamera, jangan tanggung-tanggung. Niatkan saja sekalian kalau kamera yang akan dibeli adalah juga untuk menjadi sarana belajar fotografi, siapa tahu bakat terpendam anda bisa terwujud tanpa disadari. Pilihlah kamera yang bagus menurut ekspektasi (dan budget) anda, tapi iringilah dengan mengenal teori dasar fotografi dan berkreasilah dengan melatih seni, imajinasi dan komposisi. Kenali juga setting teknis kamera seperti metering, shutter, aperture, ISO, white balance dan focus mode. Siapa tahu anda nanti bisa punya gallery foto di internet yang banyak dikunjungi dan dikagumi orang. Salam..