Kamera Kita

22.09

Nikon D60, pengganti Nikon D40/D40x

Diposting oleh Super Aidie |

by Mas Gaptek

Artikel ini awalnya berjudul : Meramal pengganti Nikon D40/D40x. Karena akhirnya pada 29 Januari 2008 Nikon D60 resmi diluncurkan untuk menggantikan Nikon D40/D40x, maka artikel ini tidak saya hapus, melainkan hanya diupdate saja. Dengan demikian prediksi saya sebelumnya mengenai pengganti D40/D40x ini dapat dievaluasi mana yang benar dan mana yang meleset. Yah, namanya juga meramal, belum tentu 100% tepat kan? Baiklah, selamat membaca.

Setahun lebih sudah Nikon D40/D40x menjadi primadona DSLR murah yang laris manis. Sudah menjadi hal biasa pula bahwa untuk mempertahankan posisi dan pangsa pasar, produsen secara berkala meluncurkan produk baru dan men-discontinued produk lawasnya. Hal ini juga berlaku untuk Nikon D40/D40x yang gencar diberitakan di internet bahwa produksinya akan segera berakhir dan digantikan oleh generasi baru. Sedih juga saat membayangkan apabila Nikon akhirnya benar-benar memutuskan untuk menghentikan produksi D40/D40x, sebuah kamera DSLR yang telah begitu populer di kalangan fotografer pemula.

Tidak ada yang tahu seperti apa kamera DSLR kelas value yang akan diluncurkan tahun ini sebagai pengganti D40/D40x. Namun rumor yang gencar beredar di internet menyebutkan nama pengganti D40/D40x ini adalah Nikon D60. Rumor kehadiran D60 jauh lebih santer daripada pengganti D80 yang diisyukan bernama D80x atau D90. Hal ini karena kedepannya Nikon tampaknya ingin melebur jadi satu produk-produk DSLR entry level mereka (D40, D40x, D80) dan memaksa pengguna profesional untuk memakai D300 atau D3. Lantas, seperti apakah nantinya D60 yang diprediksi akan diumumkan akhir Januari ini? Tidak ada salahnya menduga-duga, sekaligus berlatih meramal (siapa tahu ramalannya tepat, he..he..). Inti dari ramalan saya yaitu Nikon D60 nantinya adalah ‘perkawinan’ antara D40 dengan D80 dengan beberapa peningkatan fitur :

  • D60 akan didesain semirip mungkin dengan D40 baik dalam segi bentuk maupun ukurannya. (benar) Resolusi dan sensor akan persis sama seperti D40x atau D80 yaitu 10 MP dengan sensor CCD merk Sony berukuran APS-C. (benar)
  • D60 akan memiliki 11 AF points yang sama seperti D80, bukan cuma 3 AF points seperti D40/D40x yang banyak dikeluhkan orang. (salah, tetap 3 AF points)
  • D60 akan melanjutkan tradisi D40 yang tidak memiliki motor fokus pada bodi. Sistem auto fokus hanya mengandalkan motor SWM pada lensa AF-S generasi baru. (benar) Hal ini akan membuat lensa Nikkor AF-S cepat laris.
  • D60 akan memiliki fitur baru khas 2008 seperti live-view, sistem anti debu dan face detection. Selain itu layaknya D3 dan D300, D60 akan memakai engine processor baru Expeed. (benar untuk anti debu dan Expeed, salah untuk live-view dan face detection)
  • D60 akan memiliki ukuran layar LCD 2,7 inci (salah, LCD tetap 2,5″), namun layaknya D40/D40x, D60 tidak akan dilengkapi dengan LCD kecil untuk status display. (benar)
  • D60 akan menggunakan viewfinder cermin, bukan prisma. Cermin (penta-mirror) memang lebih murah dan ringan dengan kualitas yang hampir sebaik prisma (penta-prism). (benar)
  • D60 akan didukung oleh asesoris penting yaitu battery-grip/vertical grip baru. (belum ada info, kemungkinan besar salah)
  • D60 akan dipasarkan di kisaran harga 6 juta (body only) atau 8 juta dengan lensa kit 18-55 VR. (benar)

Sekedar gambaran, Canon telah resmi meluncurkan pengganti EOS 400D yang bernama EOS 450D (Rebel XSi), sementara Pentax juga telah resmi meluncurkan pengganti K100D yaitu K200D yang tetap memiliki sistem anti-shake pada bodi. Artinya di kelas value/entry-level DSLR, Canon dan Pentax sudah selangkah mengungguli Nikon dalam hal peluncuran produk DSLR baru di tahun 2008 ini. Ayo Nikon…

Nikon D60

Catatan tambahan ( 29/01/2008 ) :

Setelah Nikon D60 resmi diluncurkan, spesifikasi yang dimiliki ternyata masih banyak yang serupa dengan D40/D40x. Inilah yang tetap sama (meskipun banyak yang mengharap supaya ditingkatkan) dan yang telah berubah :

Yang tetap (too bad……) :

  • tanpa motor fokus pada bodi kamera
  • hanya 3 AF points
  • tanpa live-view untuk memotret lewat LCD
  • opsi file RAW + JPEG hanya menyediakan JPEG basic
  • 12-bit A/D converter
  • tanpa fitur bracketing (baik exposure ataupun WB)

Yang mundur (huuuuu….) :

  • Flash sync speed kini hanya 1/200 detik (bandingkan pada D40 1/500 detik)

Yang baru (finally…..):

  • Konsep ‘Expeed engine’ (lebih baik kah?)
  • Sistem anti debu dengan air-flow control system akan meniupkan udara pada sensor
  • Active D-lighting (otomatis memperbaiki eksposure foto yang diambil pada kondisi kontras tinggi, diadopsi dari D300)
  • Eye Sensor yang mendeteksi saat mata berada pada viewfinder, LCD akan mati
  • Stop-motion animation function (untuk membuat klip video pendek, agak repot ya?)
  • Orientation sensor kini juga memutar tampilan info pada LCD (saat memotret vertikal, tampilan pada layar juga ikut berubah).

Tampaknya untuk menghadapi persaingan sengit di pasar DSLR entry level, Nikon cukup mengecewakan karena sedikitnya penyempurnaan pada produk barunya dibanding Canon dan Pentax. Sebagai perbandingan, untuk DSLR kelas entry level, Canon telah mengejutkan pasar dengan meluncurkan teknologi live view sementara Pentax tetap konsisten mengimplementasikan sistem anti-shake. Apakah Nikon sudah ‘kelelahan’ akibat meluncurkan D300 dan D3 bulan lalu? Ah, entahlah..

http://gaptek28.wordpress.com

22.01

Mini review : Digital SLR Nikon D40

Diposting oleh Super Aidie |

by Mas Gaptek

Pada kesempatan kali ini saya mencoba menyajikan sebuah mini-review pribadi atas produk kamera digital SLR keluaran Nikon yaitu D40 yang saya beli pada pertengahan tahun 2007.

Nikon D40 Nikon D40 semenjak peluncuran perdananya hampir setahun lalu, hingga kini masih menjadi kamera SLR digital termurah yang tersedia dipasaran. Dengan harga 5 jutaan, Anda sudah bisa menjadi pemilik kamera DSLR 6 mega piksel lengkap dengan lensa kit 18-55mm DX II f/3.5-5.6. Memang Nikon D40 sengaja diposisikan untuk mengisi pasar DSLR kelas murah dan bersaing langsung dengan Canon EOS 350D (8 MP) serta Pentax K100D (6 MP). Tren DSLR murah kini telah berhasil menggerus pasar kamera digital prosumer yang umumnya berharga 4 jutaan. Dengan gap harga yang begitu dekat, Nikon berharap para calon pembeli kamera prosumer untuk tidak tanggung-tanggung dalam terjun ke dunia fotografi dengan langsung membeli D40 sebagai DSLR pertamanya.

Sebelum kita mulai, ada sedikit informasi penting mengenai D40 akan saya sampaikan di awal. Demi memangkas harga jual dan menjaga ukuran kamera ini tetap kecil, Nikon memutuskan untuk meniadakan motor auto fokus pada bodi D40. Artinya, proses auto fokus pada D40 hanya bisa dilakukan apabila lensa Nikon yang digunakan adalah lensa generasi baru berkode AF-S yang memiliki motor fokus berteknologi SWM (dan sekarang juga ada lensa alternatif dari Sigma berkode HSM yang kompatibel dengan D40). Hal ini akan menjadi masalah bagi mereka yang telah memiliki koleksi lensa lama (Nikon AF) karena lensa tersebut terpaksa hanya bisa dipakai dengan fokus manual pada D40. Namun jika Anda adalah pemain baru di dunia DSLR semestinya tidak perlu kuatir karena Nikon akan terus meluncurkan lensa baru berkode AF-S yang tentunya dapat auto fokus di D40.

Nikon D40 backBaiklah, kita mulai saja. Dengan ukuran 126 x 94 x 64 mm, bodi D40 memang secara umum terasa lebih kecil dibanding kamera DSLR lain, bahan materialnya memang terbuat dari plastik namun masih tetap terasa kokoh. Dengan lensa kit terpasang Anda akan merasa kamera ini masih ringan, bahkan jika Anda menambah lampu kilat eksternal SB-400 sekalipun. Layar LCD TFT beresolusi 230.000 piksel yang dipakai cukup lebar dengan ukuran 2,5 inci, tampilan di layar terlihat tajam dengan viewing angle yang lebar. Di layar inilah ditampilkan menu utama untuk semua setting kamera. D40 memiliki optical viewfinder yang cukup terang meskipun hanya menggunakan penta-mirror (tidak seperti DSLR kelas atas yang menggunakan penta-prism). Handgrip relatif kecil untuk ukuran orang dewasa bertangan besar, saya masih merasa lebih nyaman saat menggenggam prosumer Lumix FZ50, misalnya. Namun meski ukuran handgrip yang relatif kecil, Nikon berhasil menjaga ergonomi kamera ini dengan baik. Terbukti saat saya menggunakan kamera ini dengan satu tangan ternyata tetap terasa stabil dan mantap digenggam.

Sensor CCD 6 MP dengan format DX

Nikon D40 menggunakan sensor CCD berukuran APS-C berformat DX buatan Sony. Sensor APS-C memiliki ukuran 23.7 x 15.5 mm yang memang lebih kecil dari ukuran sensor kamera DSLR full frame/ekuivalen film 35mm, namun jauh lebih besar daripada sensor pada kamera saku. Memang sensor CCD dari Nikon D40 hanya memiliki resolusi 6 MP dengan format 3:2, namun rasanya resolusi 6 MP sudah mencukupi untuk keperluan fotografi sehari-hari hingga urusan cetak mencetak foto berukuran sedang. Pilihan sensitivitas sensor, atau yang biasa disebut nilai ISO tersedia dari 200 sampai 1600, plus Hi+1 (ekuivalen 3200). Sebagaimana layaknya sensor kamera lainnya, pemakaian ISO rendah lebih ditujukan pada kondisi pemotretan yang cukup cahaya, sementara ISO tinggi mampu memberikan sensitivitas tinggi saat kurang cahaya, meski harus dibayar dengan hadirnya noise yang mengganggu. Pada pengujian hasil foto D40 dengan memakai ISO 200 dan 400 tidak tampak adanya noise, pada ISO 800 hasil fotonya masih cukup bersih dari noise, dan untuk ISO 1600 noise yang ada masih cukup terjaga dengan baik. Kondisi cukup parah terjadi saat nilai ISO diset ke Hi-1 yang setara dengan ISO 3200, sehingga sebaiknya nilai ISO ini dipakai hanya saat ‘darurat’ saja. Hasil pengujian seperti pada contoh dibawah ini, pemotretan dengan lensa kit 18-55mm, Av-f/4.5, WB auto, EV-0, flash off, auto ISO off (foto teratas merupakan objek foto aslinya, sementara dibawahnya adalah 100% crop pada masing-masing nilai ISO) :

Nikon tampaknya berhasil membuat algoritma noise reduction D40 yang seimbang dengan menerapkan noise reduction namun tetap mampu mempertahankan detail foto pada pemakaian ISO tinggi. Lagipula D40 telah menjadi salah satu kamera DSLR yang mampu memberi hasil foto terbaik pada ISO 1600, cukup mengagumkan. Yang menarik, pada Nikon D40 diperkenalkan fitur Auto ISO yang amat bermanfaat. Dengan adanya fitur ini, Anda tidak perlu pusing untuk mengatur nilai ISO untuk tiap kondisi pemotretan. Cukup aktifkan fitur ini, tentukan berapa nilai ISO maksimal dan pada shutter berapakah Auto ISO akan bekerja. Selebihnya setiap Anda mengambil foto, kamera akan menentukan sendiri apakah ISO perlu dinaikkan atau tidak, dan menentukan juga berapa nilai ISO yang tepat untuk kondisi pencahayaan saat itu.

Performa tinggi, sarat fitur

Meski menjadi DSLR termurah, performa Nikon D40 ternyata amat baik. Start up singkat, auto fokus cepat dan akurat (berkat Silent Wave Motor pada lensa) dan shutter lag yang juga amat singkat. Bila burst mode diaktifkan, D40 bisa mengambil gambar secara kontinyu sampai 2,5 gambar per detik. Shutter D40 memiliki kemampuan hingga 1/4000 detik dengan kombinasi mechanical dan electrical shutter. Terdapat pilihan exposure mode auto atau manual, serta beberapa mode Digital Vari-program untuk keleluasaan pemotretan. Untuk pilihan metering tersedia 3D color matrix II (420 pixel RGB sensor) yang menjadi andalan SLR Nikon generasi baru, selain itu Anda juga bisa memilih metoda metering konvensional seperti center weighted atau spot metering. Untuk pilihan white balance tersedia mode auto (cukup aman untuk berbagai sumber cahaya) dan berbagai pilihan preset white balance yang masing-masing dapat di fine tuning (ke arah + atau -). Built-in flash dengan guide number 12 pada ISO 100 bekerja cukup baik, dengan i-TTL system yang cerdas mengatur intensitas pencahayaan sesuai jarak objek terhadap kamera. Apabila dirasa perlu memakai flash manual (non TTL), Anda tinggal merubah setting flash dari TTL ke manual dan selanjutnya tersedia pilihan flash power, mulai dari full power hingga nilai yang lebih rendah. Hebatnya lagi D40 memiliki flash-sync sampai 1/500 detik, suatu angka yang jarang dimiliki oleh SLR lain. Nilai flash-sync secepat ini diraih berkat penggunaan electrical shutter, bermanfaat bila ingin menggunakan lampu kilat saat memotret di siang hari. Apabila dibutuhkan daya flash yang lebih besar dapat mempertimbangkan flash eksternal yang dipasangkan di hot shoe D40. Selain itu flash eksternal memungkinkan cahaya dibouncing ke langit-langit sehingga jatuhnya cahaya akan lebih alami.

Seputar auto fokus pada D40

Seperti yang sudah saya ulas di awal, proses auto fokus pada D40 hanya mengandalkan pada putaran motor SWM pada lensa-lensa Nikon berkode AF-S. Setidaknya sistem fokus memakai motor pada lensa ini memiliki kelebihan dalam hal kecepatan dan ketepatan fokus dibanding sistem auto fokus yang digerakkan oleh motor pada kamera. Namun apabila lensa yang dipasang tidak memiliki motor AF maka sistem auto fokus tidak bisa digunakan. Modul auto fokus pada kamera D40 menggunakan modul Multi-CAM530 yang sayangnya hanya memiliki 3 titik horizontal (left, center, right) sehingga kurang fleksibel bila dipakai pada kondisi pemotretan yang sulit. Ketiga titik fokus tadi akan mencari area fokus berdasarkan setting AF area mode pada kamera, yaitu :

  • Closest subject (default mode-sensor akan memilih objek terdekat)
  • dynamic area (sensor memilih 1 dari 3 titik fokus)
  • single area (pemakai memilih sendiri 1 dari 3 titik fokus secara manual)

Saya temui dengan memakai mode default terkadang kamera salah dalam mengunci fokus, sehingga mode ini akhirnya saya biarkan pada mode single area, dimana dalam kondisi normal titik area fokus selalu ada di posisi center, dan apabila diperlukan barulah dirubah ke kiri atau ke kanan secara manual. Selain pilihan AF area, pada Nikon D40 juga terdapat pilihan focus servo mode. Pilihan mode ini dipakai untuk menentukan apakah kamera akan mengunci fokus pada objek yang diam atau bergerak. Salah satu kelebihan kamera DSLR adalah kemampuan auto fokusnya yang mampu terus-menerus memfokus pada objek yang bergerak meski bergeraknya menjauhi atau mendekati kamera. Untuk itu tersedia empat pilihan focus servo mode : Continuous/AF-C (untuk objek yang terus bergerak), Single servo/AF-S (untuk objek diam), auto (AF-A) yang akan mendeteksi gerakan objek dan otomatis menentukan servo fokusnya, serta Manual Focus (apabila memakai lensa non AF-S). Untuk membantu sistem auto fokus dalam kondisi gelap, tersedia sebuah lampu AF assist berwarna putih terang (dan berfungsi juga sebagai indikator saat self-timer).

Lensa kit 18-55mm generasi II

afs-18-55-logoUntuk lensa kit dari D40 ini Nikon telah mengeluarkan lensa AF-S 18-55mm DX f/3.5-5.6 generasi II dengan motor SWM, dimana lensa ini sudah cukup baik untuk mulai dipakai jeprat-jepret. Karena D40 memakai format DX, maka lensa Nikon ini akan terkena crop factor 1,5x sehingga jangkauan lensa ini jadinya setara dengan 27-82.5mm (3x zoom). Jangkauan ini dirasa sudah cukup ideal untuk kebutuhan wideangle hingga medium telephoto. Disamping itu lensa zoom termurah dari Nikon ini juga telah dilengkapi lensa aspherical dan lensa berelemen ED ( untuk menghindari penyimpangan warna serta menjaga ketajaman dan kontras). Saya akui lensa mungil ini memang tajam terutama jika memakai nilai f/8, meski pada saat bukaan maksimal ketajamannya tetap saja baik. Untuk urusan distorsi juga lensa ini patut diacungi jempol dengan distorsinya yang rendah bahkan pada saat wide-end. Kekurangan dari lensa kit ini adalah bodinya yang terbuat dari plastik (termasuk mountingnya), bokehnya yang kurang blur dan manual fokus yang sulit (tidak bisa beralih dari auto ke manual fokus secara langsung, harus menggeser A/M switch terlebih dahulu). Apabila jangkauan zoom lensa kit ini dirasa masih kurang, Anda bisa menabung dulu untuk nantinya menambahkan lensa tele ekonomis Nikon AF-S 55-200 DX (1,6 juta untuk non-VR dan 2,2 juta dengan VR).

Final words

Bila disimpulkan, hal yang layak diacungi jempol dari Nikon D40 (dan lensa kitnya) adalah performanya yang melebihi harganya. D40 beserta lensa kitnya telah mampu menghasilkan foto berkualitas dengan warna yang indah (meski default JPEG cenderung agak over saturated), eksposure dan kontras yang baik serta noise yang relatif bersih meski pada ISO tinggi. Selain itu D40 memiliki keunggulan pada ukurannya yang kecil (dan ringan) namun tetap menjaga ergonominya dengan baik, layar LCDnya yang tajam, daya tahan baterai yang awet (menggunakan baterai baru tipe EN-EL9), menu sangat simpel dan mudah, adanya retouch menu dan sudah mendukung USB 2.0 serta SDHC memory card (sampai 4 GB).

Tentu saja dengan harga semurah ini, Nikon D40 tidak bisa lepas dari adanya kekurangan. Masalah pertama tentunya adalah keterbatasan pilihan lensa yang bisa auto fokus di D40. Selain itu, modul auto fokus yang hanya memiliki 3 titik amat tertinggal daripada pesaing yang umumnya telah mencapai 7-11 titik, hal ini dapat menyulitkan saat memotret vertikal, tidak ada top status LCD (meski bagi sebagian orang ini bukan suatu masalah), tidak ada mode exposure dan white-balance bracketing, tidak ada DOF preview dan tanpa fitur yang sedang tren saat ini, sistem ‘anti debu’.

So, menurut saya Nikon D40 memang layak direkomendasikan sebagai kamera DSLR entry level terbaik saat ini. Demikianlah mini-review yang saya dapat sajikan, semoga dapat berguna bagi Anda terutama yang sedang mencari DSLR idaman, salam.

Update :

Saya telah membuat topik khusus berisi tanya jawab seputar Nikon D40 di sini.

Untuk tips dan trik Nikon D40 simak di sini.

Sumber : http://gaptek28.wordpress.com/

09.23

Kamera

Diposting oleh Super Aidie |

Kamera adalah alat paling populer dalam aktivitas fotografi. Nama ini didapat dari camera obscura, bahasa Latin untuk "ruang gelap", mekanisme awal untuk memproyeksikan tampilan di mana suatu ruangan berfungsi seperti cara kerja kamera fotografis yang modern, kecuali tidak ada cara pada waktu itu untuk mencatat tampilan gambarnya selain secara manual mengikuti jejaknya. Dalam dunia fotografi, kamera merupakan suatu peranti untuk membentuk dan merekam suatu bayangan potret pada lembaran film. Pada kamera televisi, sistem lensa membentuk gambar pada sebuah lempeng yang peka cahaya. Lempeng ini akan memancarkan elektron ke lempeng sasaran bila terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu diperlakukan secara elektronik. Dikenal banyak jenis kamera potret.



Komponen kamera

Sebuah kamera minimal terdiri atas:

  • Kotak yang kedap cahaya (badan kamera)
  • Sistem lensa
  • Pemantik potret (shutter)
  • Pemutar film

Badan kamera

Badan kamera adalah ruangan yang sama sekali kedap cahaya, namun dihubungkan dengan lensa yang darimana menjadi satu-satunya tempat cahaya akan masuk. Di dalam bagian ini cahaya yang difokuskan oleh lensa akan diatur agar tepat mengenai dan membakar film.

Di dalam kamera untuk tujuan seni fotografi, biasanya ditambahkan beberapa tombol pengatur, antara lain:

  • Pengatur ISO/ASA Film.
  • Shutter Speed.
  • Aperture (Bukaan Diafragma).

Jika diperlukan bisa pula ditambah peralatan:

Sistem lensa

Sistem lensa dipasang pada lubang depan kotak, berupa sebuah lensa tunggal yang terbuat dari plastik atau kaca, atau sejumlah lensa yang tersusun dalam suatu silinder logam.

Tingkat penghalangan cahaya dinyatakan dengan angka f, atau bukaan relatifnya. Makin rendah angka f ini, makin besar bukaannya atau makin kecil tingkat penghalangannya. Bukaan ini diatur oleh jendela diafragma. Bukaan relatif diatur oleh suatu diafragma. Untuk kamera SLR, lensa dilengkapi dengan pengatur bukaan diafragma yang mengatur banyaknya cahaya yang masuk sesuai keinginan fotografer.

Jenis lensa cepat ataupun lensa lambat ditentukan oleh rentang nilai F yang dapat digunakan.

Disamping lensa biasa, dikenal juga lensa sudut lebar (wide lens), lensa sudut kecil (tele lens), dan lensa variabel (variable lens, atau oleh kalangan awam disebut dengan istilah lensa zoom.

Lensa sudut lebar mempunyai jarak fokus yang lebih kecil daripada lensa biasa. Namun sebutan itu bergantung pada lebarnya film yang digunakan. Untuk film 35 milimeter, lensa 35 milimeter akan disebut lensa sudut lebar, sedangkan lensa 135 milimeter akan disebut lensa telefoto.

Lensa variabel dapat diubah-ubah jarak fokusnya, dengan mengubah kedudukan relatif unsur-unsur lensa tersebut. Lensa akan memfokuskan cahaya sehingga dihasilkan bayangan sesuai ukuran film. Lensa dikelompokkan sesuai panjang focal length (jarak antara kedua lensa).

Focal lenght mempengaruhi besar komposisi gambar yang mampu dihasilkan. Dalam masyarakat umum, lebih dikenal dengan istilah zoom.

Pemantik Potret

Tombol pemantik potret atau shutter dipasang di belakang lensa atau di antara lensa. Kebanyakan kamera SLR mempunyai mekanisme pengatur waktu untuk memungkinkan mengubah-ubah lama bukaan shutter. Waktu ini ialah singkatnya pemetik potret itu membuka, sehingga memungkinkan berkas cahaya mengenai film.

Beberapa masyarakat awam menganggap kemampuan kamera sebanding dengan besarnya nilai maksimum shutter speed yang bisa digunakan.

Bagian lain

Bagian lain sebuah kamera, antara lain:

  1. Mekanisme memutar film gulungan agar bagian-bagian film itu bergantian dapat disingkapkan pada objek
  2. Mekanisme fokus yang dapat mengubah-ubah jarak antara lensa dan film,
  3. Pemindai komposisi pemotretan (range finder) yang menunjukkan apa saja yang akan terpotret serta apakah objek utama akan terfokuskan
  4. lightmeter untuk membantu menetapkan kecepatan pemetik potret dan atau besarnya bukaan, agar banyaknya cahaya yang mengenai film cukup tepat sehingga diperoleh bayangan atau gambar yang memuaskan.

Beberapa kamera, terutama jenis kamera poket biasanya tidak memiliki salah satu dari bagian-bagian tersebut.

Jenis kamera berdasarkan media penangkap cahaya

Kamera film menggunakan pita seluloid (atau sejenisnya, sesuai perkembangan teknologi). Butiran silver halida yang menempel pada pita ini sangat sensitif terhadap cahaya. Saat proses cuci film, silver halida yang telah terekspos cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam, sedangkan yang kurang atau sama sekali tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).

Kamera film

Jenis kamera film yang digunakan adalah dari jenis 35 milimeter, yang menjadi populer karena keserbagunaan dan kecepatannya saat memotret, karena kamera ini berukuran kecil, kompak dan tidak mencolok. Lensa kadang dapat dipertukarkan, dan kamera itu dapat memuat gulungan film untuk 36 singkapan, bahkan kadang lebih.

Jenis film

Pembagian film berdasarkan ukuran:

  • Small format (35mm)
  • Medium format (100-120mm)
  • Large format

Angka di atas berarti ukuran diagonal film yang digunakan. Setiap jenis ukuran film haru menggunakan kamera yang berbeda pula.

Pembagian film berdasarkan jenis bahan dan kesensitifannya:

  • Film hitam putih
  • Film warna
  • Film positif
  • Film negatif
  • Film daylight
  • Film tungsten
  • Film infra merah (sensitif terhadap panas yang dipantulkan permukaan objek)

Kamera polaroid

Kamera jenis ini memakai lembaran polaroid yang langsung memberikan gambar positif sehingga pemotret tidak perlu melakukan proses cuci cetak film.

Kamera digital

Kamera jenis ini merupakan kamera yang dapat bekerja tanpa menggunakan film. Si pemotret dapat dengan mudah menangkap suatu objek tanpa harus susah-susah membidiknya melalui jendela pandang karena kamera digital sebagian besar memang tidak memilikinya. Sebagai gantinya, kamera digital menggunakan sebuah layar LCD yang terpasang di belakang kamera. Lebar layar LCD pada setiap kamera digital berbeda-beda.

Sebagai media penyimpanan, kamera digital menggunakan internal memory ataupun external memory yang menggunakan memory card.

Jenis kamera berdasarkan mekanisme kerja

Kamera single lens reflect

Kamera ini memiliki cermin datar dengan singkap 45 derajat di belakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dalam jendela pandang adalah juga apa yang akan di tangkap pada film. Umumnya kamera ini digunakan setinggi pinggang ketika dipotretkan.

Kamera instan

Istilah instan adalah dimilikinya mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar pengukur cahaya (lightmeter atau fotometer), lebar diafragma dan kecepatan pemetik potret secara otomatis telah diatur.

Pembagian kamera berdasarkan teknologi viewfinder

Viewfinder memainkan peranan penting dalam penyusunan komposisi fotografi. Fotografer ahli biasanya akan lebih memilih viewfinder dengan kualitas baik dan mampu memberikan gambaran tepat seperti apa yang akan tercetak.

Kamera saku

Jenis yang paling populer digunakan masyarakat umum. Lensa utama tak bisa diganti,umumnya otomatis atau memerlukan sedikit penyetelan Cahaya yang melewati lensa langsung membakar medium. Kelemahan film ini adalah gambar yang ditangkap oleh mata akan berbeda dengan yang akan dihasilkan film, karena ada perbedaan sudut pandang jendela pembidik (viewfinder)) dengan lensa.

Kamera TLR

Kelemahan kamera poket diperbaiki oleh kamera TLR. Jendela bidik diberikan lensa yang identik dengan lensa di bawahnya. Namun tetap ada kesalahan paralaks yang ditimbulkan sebab sudut dan posisi kedua lensa tidak sama.

Kamera SLR (Single Lens Reflect)

Pada kamera SLR, cahaya yang masuk ke dalam kamera dibelokkan ke mata fotografer sehingga fotografer mendapatkan bayangan yang identik dengan yang akan terbentuk. Saat fotografer memencet tombol kecepatan rana, cahaya akan dibelokkan kembali ke medium (atau film). lensa kamera SLR dapat diganti ganti sesuai kehendak,sangat disukai para ahli foto, atau hobby, dudukan lensa pada body kamera berbeda benda tergantung merek kamera,mulai dari lensa wide(sudut lebar),tele(jarak jauh),dan lensa normal(standard 50 mm),tersedia pula lensa zoom dengan panjang lensa bervariasi


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kamera

Subscribe